Mengemis Platform atau Membangun Altar?

Artistic workspace featuring calligraphy and digital design on a tablet and laptop.

Kreativitas, Panggilan, dan Krisis Validasi dalam Pelayanan Digital

Di era digital, pelayanan tidak lagi terbatas pada mimbar gereja. Platform hadir di mana-mana: media sosial, kanal video, podcast, hingga ruang komunitas daring. Namun, bersamaan dengan terbukanya ruang-ruang baru ini, muncul sebuah fenomena yang jarang dibicarakan secara jujur dalam gereja: mengemis platform.

Fenomena ini terlihat ketika seseorang merasa nilai pelayanannya meningkat hanya ketika ia sering diundang berkhotbah, memimpin pujian, atau tampil di berbagai gereja. Undangan menjadi tolok ukur legitimasi rohani. Poster pelayanan menjadi bukti eksistensi. Dan kesibukan berpindah mimbar sering disalahartikan sebagai keberhasilan pelayanan.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi, melainkan mengajak gereja dan para pelayan Tuhan untuk membaca fenomena ini secara teologis dan reflektif.


Undangan vs Panggilan

Alkitab tidak pernah mendefinisikan panggilan melalui banyaknya undangan. Panggilan selalu mendahului pengakuan.
Daud diurapi sebagai raja saat ia masih menggembalakan domba. Musa dipanggil Allah di padang gurun yang sunyi, jauh dari sorotan. Yesus sendiri menjalani sekitar tiga puluh tahun kehidupan tersembunyi sebelum pelayanan publik-Nya dimulai.

Masalah muncul ketika undangan diposisikan sebagai bukti panggilan. Ketika tidak diundang, seseorang mulai mempertanyakan nilainya. Ketika diundang, identitasnya terasa naik. Pada titik ini, pelayanan pelan-pelan bergeser dari ketaatan kepada pencarian validasi.

Undangan bukanlah dosa. Tetapi menjadikan undangan sebagai sumber identitas rohani adalah masalah teologis yang serius.


Platform sebagai Simbol Status Rohani

Dalam sosiologi agama, mimbar, mikrofon, dan undangan pelayanan sering berfungsi sebagai simbol status rohani. Ia memberi sinyal pengakuan, otoritas, dan legitimasi dalam komunitas iman. Di era digital, simbol ini diperluas melalui poster, unggahan story, dan eksposur media sosial.

Maka tidak mengherankan jika ada pelayan Tuhan yang:

  • lebih bersemangat ketika tampil daripada ketika membina
  • lebih rajin memposting undangan daripada membangun jemaat
  • merasa “kurang dipakai Tuhan” ketika tidak terlihat

Yang dicari bukan selalu pelayanan, melainkan pengukuhan identitas. Ini bukan sekadar masalah individu, tetapi hasil dari budaya pelayanan yang lebih menekankan visibility daripada faithfulness.


Akar Masalah: Tidak Memiliki Platform Internal

Orang yang sibuk mengejar platform eksternal sering kali belum selesai membangun platform internal—altar pribadi, kedewasaan rohani, dan identitas sebagai anak Allah.

Alkitab berulang kali menunjukkan pola yang konsisten:
Allah membentuk hamba-Nya dalam kesunyian sebelum mempercayakan mereka kepada publik. Proses tersembunyi bukan hukuman, melainkan anugerah pembentukan.

Ketika seseorang tidak tahan berada di tempat kecil, sepi, dan tanpa pengakuan, sering kali itu bukan karena ia belum siap melayani, tetapi karena ia belum aman dengan siapa dirinya di hadapan Allah.


Created Your Own Platform: Sebuah Koreksi Teologis

Di sinilah gagasan “Created Your Own Platform” menjadi relevan secara teologis. Membangun platform bukan soal menciptakan panggung pribadi, tetapi menciptakan ruang perjumpaan antara Allah dan manusia.

Yesus tidak menunggu sinagoge membuka pintu. Ia menciptakan ruang pelayanan di pantai, di rumah, di jalan, dan di meja makan. Platform bukan soal siapa yang mengundang kita, tetapi di mana Allah mengutus kita untuk setia.

Jika Tuhan belum mempercayakan mimbar orang lain, mungkin Ia sedang mengundang kita untuk membangun altar kita sendiri.


Kreativitas sebagai Tindakan Teologis

Kreativitas dalam pelayanan bukan sekadar strategi komunikasi. Ia adalah ekspresi dari Imago Dei. Allah mencipta, dan manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya dipanggil untuk mencipta ruang, bahasa, dan bentuk yang membawa kebenaran.

Ketika kreativitas lahir dari kerinduan akan kemuliaan Allah, platform menjadi alat inkarnasi Injil. Namun ketika kreativitas digerakkan oleh kebutuhan validasi, platform berubah menjadi panggung performatif.

Perbedaannya bukan pada medianya, tetapi pada motif dan formasi rohani.

Penutup

Gereja hari ini tidak kekurangan talenta dan platform. Yang sering kurang adalah kedewasaan identitas rohani. Ketika identitas dipulihkan, undangan tidak lagi menjadi tujuan, melainkan konsekuensi.

Allah tidak sedang mencari hamba yang sibuk mengejar panggung, tetapi anak-anak yang setia membangun altar—bahkan ketika tidak ada yang menonton.

Platform without formation becomes performance.
But formation always produces fruit, with or without applause.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *